Hidupku skenario Tuhan
Apa ya yang telah aku lakukan dalam hidupku?
Kuliah S1 jurusan Biologi (umum), 5 tahun. lalu kuliah akta IV, entah berapa bulan waktu itu. lupa. Lalu lanjut kuliah S2 jurusan Biomedik, 3 tahun. Dan sekarang kerjanya ga ada kaitannya sama kuliah selama +/- 9 tahun itu. What a waste of time!
Makanya aku sangat kagum pada orang yang sudah memiliki cita-cita yang rigid sejak kecil. Mereka tau arah yang mereka tuju. Sedangkan aku terlalu santai mengikuti ombak kehidupan.
Belaku dalam hati ya mana aku tau ke mana hidup ini membawaku?! Saat lulus SMA yg penting dapat kampus negeri. lalu begitu lulus kuliah yang penting punya pekerjaan. Untuk mendukung pekerjaan ya aku sekolah lagi akta IV supaya paham dunia pengajaran. Lalu aku punya uang ya aku kuliah lagi yang lokasinya terjangkau dan bisa tetap mengajar saat itu yaa di Biomedik FKUI. Mana aku tau kalo beberapa tahun kemudian pekerjaanku berubah menjadi mengurusi lab-lab kalibrasi yang dokumennya tidak berhubungan sama sekali dengan kuliahku?!
Memang, lebih baik jika kita tau ke mana kaki kita akan melangkah. Kita tau ke mana, kapan, dan kenapa kita bergerak menuju target tersebut. Sambil bergerak sambil mengumpulkan bekal semakin banyak. Bekalnya pun jadi berguna karena sesuai apa yang dibutuhkan. Bukannya asal ambil selendang padahal mau memancing ikan di laut.
Tapi benarkah semuanya sia-sia?
Ya nggak juga sih. Dalam perjalan yang tak tentu arah, aku jadi mengenal banyak teman dengan beragam latar belakang. Aku jg mendapatkan ilmu untuk kehidupan pribadiku. Kan siapa yang tahu Covid bakal hadir di bumi, kan? Siapa yg tau ilmu biologi dan biomedikku menjadi tameng yang melindungiku dari anti-skeptisme terhadap hoax yang berseliweran?! Lagipula, aku harus menghitung 9 tahun yang aku habiskan untuk mengajar dan menggunakan ilmu Bio-Bio-ku itu. 9 tahun yang sangat berkesan. 9 tahun yang bisa membuatku, terkadang, rindu kembali ke masa itu.
Jadi, pada akhir tulisanku, aku ingin bersyukur kepada Tuhan yang begitu sempurna skenarionya. Maafkan aku ya, Tuhan, karena hobinya mengeluh, sukanya yang gampang-gampang, tapi penginnya dapat semua kenikmatan. Maafkan aku ya, Tuhan, karena sudah setua ini belum bisa mengumpulkan bekal lebih banyak untuk berangkat ke tujuan hidup paling hakiki. Maafkan aku ya, Tuhan, atas bentangan masa yang belum kuisi dengan hal yang bermanfaat. Tolonglah aku, Tuhan, agar bisa menjadi manusia yang lebih baik di skenarioMu saat ini, dan masa yang akan datang. Aamiiiin..
Komentar
Posting Komentar